Gaya Design - Presentation Cycle
slide1
slide2
slide3
slide4
..:: ditbekangad ::..
MANTAN DIRKUAD

  • DIRKUAD - I

    Mayjen TNI Prof. Dr. Arifin Abdurachman

  • DIRKUAD - II

    Letkol R. Padmosuwarno

  • DIRKUAD - III

    Letkol RM Haryono

  • DIRKUAD - IV

    Letjen TNI H. KRMH Soeryo Wiryohadiputro

  • DIRKUAD - V

    Mayjen TNI Buang Siswo Darsono

  • DIRKUAD - VI

    Brigjen TNI Badarusamsi

  • DIRKUAD - VII

    Mayjen TNI R. Sumarto Haryono

  • DIRKUAD - VIII

    Brigjen TNI Slamet Haryono

  • DIRKUAD - IX

    Mayjen TNI Soehanto

  • DIRKUAD - X

    Brigjen TNI Maskanan

  • DIRKUAD - XI

    Brigjen TNI Burhanuin Siregar

  • DIRKUAD - XII

    Brigjen TNI H.R. Soemarno

  • DIRKUAD - XIII

    Brigjen TNI Hari Kiswanto

  • DIRKUAD - XIV

    Brigjen TNI HS. Momon H. Adiputra

  • DIRKUAD - XV

    Brigjen TNI Soetarto

  • DIRKUAD - XVI

    Brigjen TNI I Made Kerana

  • DIRKUAD - XVII

    Brigjen TNI H. Suhendri. M, SE, MBA

  • DIRKUAD - XVIII

    Brigjen TNI H. Santoso Yuwono, SE

  • DIRKUAD - XIX

    Brigjen TNI Ir. H. Yayat Rochadiat MM, MBA

  • DIRKUAD - XX

    Brigjen TNI Minwar Hidayat SH

  • DIRKUAD - XXI

    Brigjen TNI Sumarwoto

  • DIRKUAD - XXII

    Brigjen TNI Hadi Rudito, SE

  • DIRKUAD - XXIII

    Brigjen TNI Bambang Ratmanto, ST, MM

  • DIRKUAD - XXIV

    Brigjen TNI Yus Adi Kamrullah

  • DIRKUAD - XXV

    Brigjen TNI Teddy Hernayadi


Clean Elegant Login Form with Avatar

LOGIN PERATURAN


PERATURAN
2012
2013
2014
2015



KONTAK KAMI
Animated Background Image | jquerydemo.com

artikel
ARTIKEL

Rabu, 11 Nopember 2015, 03:28:21
Analisis Dampak Melemahnya Rupiah Terhadap Dollar AS
Penulis : Brigjen TNI Sasongko Hardono, S.Sos., M.M.
 

Setelah diterpa krisis ekonomi pada 1998, perekonomian Indonesia perlahan menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan ekonomi yang pada 1999 amat rendah, yaitu 0,85%, perlahan merangkak naik sampai 6,28% di tahun 2007 namun turun kembali menjadi 4,5% pada tahun 2009 karena adanya krisis finansial global yang dimulai akhir 2008. Namun belakangan ini kondisi yang baik mengalami ujian yang cukup berat seiring menguatnya mata uang dollar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia pada tahun 2015, termasuk rupiah. 

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS membawa dampak terhadap kondisi perekonomian Indonesia, diantaranya: 1) Sektor industri terutama industri yang memanfaatkan bahan baku impor, yaitu harga bahan baku tersebut akan semakin mahal, seperti farmasi, kimia dan automotif; 2) Neraca perdagangan dalam kondisi semu. Artinya Neraca perdagangan surplus bukan berarti kinerja perekonomian membaik. Kelihatannya saja surplus, tapi belanja bahan baku impor untuk memproduksi barang ekspor menurun. Ini menunjukkan pelemahan di sektor industri manufaktur; 3) Sektor riil yang berhubungan dengan sumber daya manusia (karyawan) akan banyak mengalami gejolak yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK); 4) Naiknya biaya-biaya material utama konstruksi baik yang datangnya dari luar negeri (impor) maupun material industri lokal. Meskipun demikian melemah Rupiah terhadap dollar AS, rupiah tetap kompetitif dibandingkan mata uang asing lainnya, setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan "real exchange rate" (RER).

Analisis dari dampak melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS menggunakan Metode pendekatan studi kepustakaan dengan mengambil data dari berbagai referensi dan sumber-sumber terkait.

Kerangka Analisis

Gambaran kondisi struktur ekonomi Indonesia dapat dilihat melalui kontribusi setiap sektor ekonomi terhadap pembentukan PDB. Struktur ekonomi dikatakan berubah apabila kontribusi/pangsa PDB dari sektor ekonomi yang mulanya dominan digantikan oleh sektor ekonomi lain. Sektor-sektor dalam perekonomian yang dikelompokan menjadi 3 sektor diatas dapat diuraikan yaitu 1. Sektor primer (sektor pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, sektor pertambangan dan penggalian). 2. Sektor sekunder (sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air serta sektor konstruksi). 3. Sektor tersier (sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa). Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berlangsung secara berkesinambungan pada periode sebelum krisis ekonomi (pertumbuhan tidak pernah berada di bawah 6,40 persen) dan semakin meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat secara agregat, ternyata memberi kemajuan yang cukup berarti terhadap perubahan struktur ekonomi Indonesia. Perubahan struktur ekonomi ini terlihat dari perubahan komposisi sektor ekonomi atas kontribusinya terhadap PDB.

Pertama, PDB, Indikator Penting untuk Mengukur Perekonomian Negara

Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan salah satu indikator yang banyak digunakan peneliti untuk menganalisis keadaan makro ekonomi. Kegunaan data PDB antara lain adalah untuk menentukan laju pertumbuhan ekonomi dan struktur ekonomi. Selain itu, dari data PDB ini juga dapat diturunkan menjadi beberapa indikator ekonomi lainnya. Penghitungan PDB dilakukan dengan 3 pendekatan, yaitu:

1.  Pendekatan Produksi.  PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dikelompokkan menjadi 9 sektor, yaitu :a. Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, b.Pertambangan dan penggalian, c. Industri pengolahan, d. Listrik, gas dan air bersih, e. Konstruksi, f. Perdagangan, hotel, dan restoran, g. Pengangkutan dan komunikasi, h. Keuangan, real estate dan jasa perusahaan, i. Jasa – jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah.

2.  Pendekatan Pendapatan.  PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor – faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan, semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung netto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

3.  Pendekatan Pengeluaran/Penggunaan.  PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari : a. Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta (PC), b. Pengeluaran konsumsi pemerintah (GC), c. Pembentukan modal tetap (TCF), d. Perubahan inventori/stok (S), e. Ekspor neto (ekspor (EX) dikurangi impor (IM)).

Dalam persamaan matematis dapat dituliskan sebagai berikut :

          Y = PC + GC + TCF + S + (EX-IM)

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan hasil yang sama. Dari data PDB yang ada, dapat diturunkan beberapa indikator ekonomi lainnya, antara lain Produk Nasional Bruto (PNB), Produk Nasional Netto atas dasar harga pasar dan atas dasar biaya faktor biaya produksi serta indikator angka-angka per kapita.

Kedua, pendekatan dari aspek ilmu ekonomi

Ilmu Ekonomi Deskriptif, yaitu ilmu ekonomi yang menggambarkan keadaan perekonomian yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Ilmu ekonomi Deskriptif bertugas mengumpulkan keterangan-keterangan nyata yang relevan dengan suatu permasalah ekonomi.

Ilmu Ekonomi Teori, digunakan dalam menyusun model analisis ekonomi untuk menerangkan perilaku sistem perekonomian secara garis besar. Ilmu ekonomi teori berasal dari kesimpulan data yang telah diolah dan dianalisa menjadi suatu pendapat. Ilmu Ekonomi Teori dikelompokkan menjadi 2, yaitu : Teori Ekonomi Mikro dan Teori Ekonomi Makro.

Ilmu Ekonomi Terapan, yaitu untuk mengaplikasikan teori ekonomi untuk memecahkan permasalahan-permasalahan dalam bidang ekonomi dalam masyarakat seperti pengangguran, inflasi, penurunan pendapatan per kapita, atau masalah ekonomi lainnya untuk dicarikan alternatif-alternatif pemecahan masalahnya. 

Pembahasan

Depresiasi, atau penurunan nilai tukar (kurs) suatu mata uang, seringkali dipandang negatif. Padahal sebenarnya, ada yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan. Kurs Rupiah melemah memiliki beragam implikasi bagi masyarakat, baik perusahaan maupun individual. Kemerosotan kurs Rupiah hingga Rp 14,000 lebih per Dolar diakibatkan Beragam faktor diantaranya fundamental ekonomi Indonesia yang masih rapuh serta sentimen regional Asia dan negara-negara berkembang yang memburuk dan berakibat pada pelarian modal ke luar negeri.

Dalam kenyataannya pelemahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap Dollar AS memiliki beragam implikasi bagi masyarakat, baik perusahaan maupun individual. Implikasi atau pengaruh tersebut dapat positif bagi perkembangan perekonomian dan negatif, diantaranya :

Pertama, dampak positif dari penguatan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah adalah

1)   Nilai Gaji Dalam Dollar AS Meningkat. Seiring peningkatan nilai tukar mata uang asing khususnya dollar AS terhadap mata uang rupiah akan memperbesar pendapatan karyawan/tenaga kerja yang dibayar dalam mata uang asing. Kurs Rupiah melemah membuat nilai gaji dalam bentuk Dollar AS atau mata uang asing lainnya jadi meningkat saat ditukarkan dengan Rupiah. Kiriman bulanan TKI sebesar 500 USD ke keluarganya di Indonesia, misalnya. Saat kurs Rupiah 12,000 per Dollar AS maka jumlah itu hanya akan setara dengan sekitar 6 juta Rupiah; tetapi bila kurs Rupiah melemah hingga 14,000 per Dollar AS maka nilainya akan meningkat jadi sekitar 7 juta Rupiah.; 

2)   Meningkatkan Daya Saing Produk Made In Indonesia di Luar Negeri.  Melemahnya niai tukar Rupiah terhadap Dollar AS akan membuat nilai mata uang rupiah menjadi sangat murah. Hal ini dapat menjadi stimulus bagi perusahan maupun individu untuk melakukan ekspor. Karena dapat dihitung bahwa dengan menguatnya mata uang asing (Dollar AS), maka harga barang produksi dalam negeri yang telah diproduksi sebelum adanya kenaikan nilai tukar mata uang akan bernilai relative murah.  Selain itu sudah umum diketahui juga bahwa dengan kurs rupiah melemah, harga produk Indonesia akan semakin murah bagi konsumen yang berdomisili di luar negeri.  Secara teoritis, hal ini bisa meningkatkan pangsa pasar bagi produk-produk Made in Indonesia. Selain itu, perusahaan berorientasi ekspor menerima pembayaran dari luar negeri dalam bentuk Dollar AS yang nilainya semakin tinggi seiring melemahnya Rupiah. Dengan sendirinya, Kondisi ini bisa meningkatkan ekspor Indonesia; 3) Harga barang konsumsi impor akan naik.  Bagi barang-barang impor dari jenis barang konsumsi mungkin bagus. Jika harga buah-buahan impor naik misalnya, maka orang mungkin akan tertarik untuk membeli buah- buahan lokal yang lebih murah dan segar.  Jika masyarakat lebih suka buah lokal, maka impor buahpun akan turun.  Pendapatan Importir buah ikut anjlok, tetapi disaat yang bersamaan akan menggeser rezeki bagi petani dan pedagang buah lokal.  Hal ini memungkinkan pendapatan petani lokal akan bertambah.

Kedua, dampak negatif dari melemahnya rupiah diantaranya adalah :

1)   Harga Barang Impor Naik. Salah satu dampak yang langsung terasa saat kurs Rupiah melemah adalah kenaikan harga barang-barang impor. Sebagian besar perdagangan luar negeri Indonesia dijalankan dengan perantaraan Dollar AS, sehingga mahalnya Dollar AS akan membuat harga barang impor juga makin mahal. Katakanlah harga buah-buahan impor naik, misalnya, maka orang mungkin akan tertarik untuk membeli buah-buahan lokal yang lebih murah dan segar.  Namun, kenaikan harga barang impor ini akan berdampak buruk terhadap sektor riil, yaitu industri yang berbahan baku impor, misalnya industri Tempe dan Tahu.  Dengan impor yang tinggi menghasilkan defisit neraca transaksi perdagangan yang bermakna nilai mata uang rupiah menjadi kurang berharga (devaluasi) yang berdampak pada kenaikan inflasi;

2)   Inflasi yang kelewat tinggi akan membuat naiknya biaya produksi barang di Indonesia. Akibatnya, produsen terpaksa meningkatkan harga barangnya. Kalau barang itu adalah barang ekspor, maka kenaikan harga bisa mengakibatkan permintaan terhadap barang tersebut dari luar negeri berkurang. Kenapa berkurang? Bisa jadi, ada negara lain yang bisa menawarkan barang yang sama dengan harga lebih rendah, sehingga mereka yang dulu membeli dari Indonesia pindah membeli ke negara lain; 3) Permintaan barang dari luar negeri yang berkurang akan mengakibatkan ekspor kita rendah. Jika ekspor kita rendah, sementara impor kita tinggi, maka kita akan mengalami defisit neraca perdagangan yang bisa berpengaruh negatif terhadap jumlah devisa kita, sekaligus membuat nilai tukar Rupiah.

3)   Permintaan barang dari luar negeri yang berkurang akan mengakibatkan ekspor kita rendah. Jika ekspor kita rendah, sementara impor kita tinggi, maka kita akan mengalami defisit neraca perdagangan yang bisa berpengaruh negatif terhadap jumlah devisa kita, sekaligus   membuat nilai tukar Rupiah melemah. Jika    ekspor berkurang dan impor juga berkurang,   maka volume perdagangan akan menurun,   tetapi masih berada di keseimbangan   tertentu.

4)    Beban hutang negara dan   swasta semakin berat.    Guna menjalankan   pembangunan   negara, pemerintah seringkali perlu berhutang, baik secara langsung ke lembaga atanegara tertentu, maupun dengan menerbitkan obligasi (surat utang). Perusahaan-perusahaan swasta pun seringkali perlu berhutang dulu untuk mengembangkan usahanya. Jika hutang-hutang ini dilakukan dalam bentuk Dollar AS, maka pengembaliannya pun harus dilakukan dengan mata uang yang sama, walaupun kurs Rupiah saat pengembalian hutang berbeda dengan saat pemberian hutang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS adalah  faktor internal (dalam negeri) dan eksternal (luar negeri). Faktor dalam negeri, diantaranya adalah :

1)       Perekonomian Indonesia yang kurang mapan karena Rupiah termasuk soft currency, yaitu mata uang yang mudah terdepresiasi. Depresiasi (melemahnya nilai mata uang suatu negara terhadap negara lain yang ditentukan oleh mekanisme pasar) karena perekonomian negara asalnya relatif kurang mapan. Mata uang negara-negara berkembang umumnya adalah mata uang tipe ini, sedangkan mata uang negara maju seperti Amerika Serikat disebut hard currency, karena kemampuannya untuk mempengaruhi nilai mata uang yang lebih lemah. Selain itu, sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia berbagi sentimen dengan negara berkembang lainnya;

2)   Pelarian modal kembali ke luar negeri (Capital Flight). Modal yang beredar di Indonesia, terutama di pasar finansial, sebagian besar adalah modal asing. Ini membuat nilai rupiah sedikit banyak tergantung pada kepercayaan investor asing terhadap prospek bisnis di Indonesia. Semakin baik iklim bisnis Indonesia maka akan semakin banyak investasi asing di Indonesia dan dengan demikian Rupiah akan semakin menguat. Sebaliknya, semakin negatif pandangan investor terhadap Indonesia, Rupiah akan kian melemah. Sebagai contoh pemotongan stimulus yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, baru-baru ini. Kebijakan uang ketat (tight money policy) tersebut membuat investor memindahkan investasinya dari Indonesia kembali ke Barat, sehingga kemudian diikuti oleh  pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar;

3) Ketidakstabilan Politik- Ekonomi di Indonesia. Faktor yang paling mempengaruhi Rupiah adalah kondisi politik ekonomi. Performa data ekonomi Indonesia, seperti pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/Gross Domestic Product), inflasi, dan neraca perdagangan, juga cukup mempengaruhi Rupiah. Pertumbuhan yang bagus akan menyokong nilai Rupiah, sebaliknya defisit neraca perdagangan yang bertambah akan membuat rupiah terdepresiasi. Dua sisi dalam neraca perdagangan, impor dan ekspor, sangat penting disini. Inilah sebabnya kenapa sangat penting bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor dan mengurangi ketergantungan pada produk impor, defisit neraca perdagangan Indonesia dan tingginya inflasi yang menyebabkan kebutuhan akan dolar meningkat tajam karena impor lebih besar daripada ekspor.

4) Kultur bangsa yang cenderung konsumtif dan boros. Kultur bangsa yang cenderung konsumtif dan boros serta public policy terkait utang. Pemerintah akan kesulitan berutang di dalam negeri, maka kekurangan akan ditutupi dengan berutang ke luar negeri. Maka karena utang harus dibayar dengan mata uang dolar, nilai tukar rupiah terhadap dolar dipastikan melemah.

Sedangkan faktor dari luar negeri diantaranya :

1)   Keadaan ekonomi Amerika Serikat yang semakin membaik. Dalam 8 tahun terakhir ekonomi AS memang cukup stabil, dan bahkan dalam 6 tahun terakhir mencapai kondisi pertumbuhan yang relatif tinggi, tingkat pengangguran turun, dan inflasi rendah. Kenaikan tingkat bunga yang cukup tinggi tidak akan membuat pertumbuhan ekonomi mereka menurun tajam; dan

2)    Rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed tahun ini. Stimulus moneter sebesar 20% dari PDB Amerika atau US$3,8 triliun akan ditarik perlahan oleh Bank Sentral AS dengan menaikkan suku bunga. Dalam tiga tahun ke depan akan naik 2,5%-3%, AS ekonominya meningkat sendiri sehingga suku bunganya juga naik. 

Dari hasil analisis di atas, maka langkah-langkah alternatif yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan semakin melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS diantaranya :

Pertama, Bank Indonesia perlu mengambil tiga (3) langkah untuk mengatasi gejolak kurs rupiah. Tiga langkah itu adalah menambah pasokan Dollar AS di pasar, meningkatkan net open position (NOP) atau posisi devisa netto, dan koordinasi dengan pihak terkait. Penambahan pasokan dolar ke pasar untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah sangat dimungkinkan di saat cadangan devisa masih dalam kondisi baik. Sedangkan meningkatkan NOP sebesar 20 persen untuk memperkecil peluang perbankan melakukan spekulasi valuta asing serta bersikap tegas terhadap bank asing yang diduga berspekulasi sehingga membuat rupiah melemah.

Kedua, pemerintah perlu mengambil kebijakan berkaitan dengan perekonomian antara lain : 1) Memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS dengan mendorong ekspor dan keringanan pajak kepada industri tertentu.

Kebijakan ini direkomendasikan, dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar adalah dengan mendorong ekspor akan mengakibatkan permintaan terhadap rupiah akan meningkat sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran. Semakin banyak barang yang diekspor, maka semakin banyak permintaan terhadap rupiah yang nantinya mengakibatkan nilai tukar rupiah menjadi stabil; 2)  Menjaga pertumbuhan ekonomi riil. Dengan menjaga pertumbuhan ekonomi riil sesuai teori dalam pasar mata uang asing faktor yang berdampak pada permintaan dan penawaran adalah laju pertumbuhan riil terhadap harga produk luar negeri. Laju peningkatan pendapatan riil domistik diprediksi akan melemahkan nilai tukar mata uang asing, sementara pendapatan riil domistik akan menyebabkan permintaan valuta asing bertambah bila dibandingkan stock yang tersedia; 3) Menjaga daya beli. Pemerintah berkoordinasi dengan BI untuk menjaga gejolak harga dan inflasi. Dengan menjaga daya beli dan pemerintah saling berkoordinasi dengan BI dalam menjaga gejolak harga dan inflasi tentunya  tingkat kemakmuran ekonomi akan membaik dan pada nantinya cenderung akan konsisten rendah tingkat inflasinya sehingga nilai mata uangnya menjadi lebih kuat dibandingkan dengan negara lain yang tingkat inflasinya tinggi. Hal itu akan menyebabkan purchasing power atau daya beli negara-negara maju tersebut lebih tinggi daripada negara lain; 4) Mempercepat investasi. langkah atau kebijakan pemerintah sangat penting dalam menentukan arus investasi kedepan, semakin banyak orang berinvestasi maka akan meningkatkan produktivitas output yang nantinya akan menstabilkan neraca perdagangan dan pada akhirnya akan menguatkan nilai tukar rupiah; serta 5)  Menjaga kestabilan kondisi ekonomi dan politik. Untuk menginvestasikan dananya, para investor tentu akan memilih negara dengan kondisi ekonomi yang baik termasuk keadaan politik yang stabil dan aman. Ketidakstabilan kondisi ekonomi secara otomatis akan mempengaruhi kepercayaan investor karena cenderung memiliki resiko tinggi sebagai tempat mengeluarkan dananya. Oleh karena itu dikatakan keadaan politik akan berdampak pula pada nilai tukar uang suatu negara.

Langkah-langkah pemecahan

Permasalah diatas perlu didukung oleh berbagai pihak agar memberikan hasil pada stabilitas nilai tukar rupiah. Adapun pihak-pihak yang perlu mendukung upaya diatas adalah :

a)   Instansi pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang sangat penting dalam merumuskan perekonomian dalam suatu Negara dan mewujudkan rekomendasi dari kami untuk mengatasi permasalahan mengenai nilai tukar rupiah, dan sangat perlu aktualisasi atau bukti nyata dari pemerintah dan tidak hanya sekedar menjadi formalitas tekstual saja (teori);

b)   Lembaga keuangan dan bank Indonesia. Bank Indonesia, otoritas lembaga keuangan serta lembaga penjamin simpanan berperan juga dalam melaksanakan rekomendasi melalui instumen-instrumennya seperti halnya tingkat suku bunga acuan untuk mendorong investasi, dan mungkin instrument-instrumen lainnya;

c)   Investor. Investor sangat diperlukan juga dalam membantu tingkat kesejahteraan ekonomi khususnya dalam meningkatkan pruduktivitas pasar domestik sehingga dapat bersaing dan menembus pasar luar negeri yang pada nantinya akan menguatkan nilai tukar rupiah;

d). Industri-industri (produsen) untuk mewujudkan surplus neraca perdagangan dibutuhkan inovasi dan terobosan-terobosan yang harus dilakukan para industri dalam menembus pasar domestik ataupun luar negeri, sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap rupiah dan pada akhirnya nilai tukar rupiah menguat; serta

 e)  Rakyat atau warga negara. Warga negara sebagai salah satu pelaku maupun korban dari kemerosotan ekonomi akibat dari melemahnya rupiah memiliki potensi yang cukup kuat dalam menentukan kebutuhan atau kepentingannya. Mencintai produk bangsa sendiri dan membayar dengan mata uang rupiah dapat dilakukan oleh seluruh warga negara untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Eksekutif dan Legislatif harus membuat aturan alat bayar transaksi di Indonesia menggunakan mata uang RI, yaitu Rupiah, bukan yang lainnya meski transaksi (berwujud atau tak berwujud) berasal dari luar negeri (impor).

Kesimpulan

Berdasarkan analisis melemahnya nilai tukar rupiah dan sebab-sebabnya serta solusi dan rekomendasi yang diajukan dapat disimpulkan bahwa nilai tukar rupiah tidak lepas dari : hubungan variable tingkat inflasi, tingkat suku bunga, neraca perdagangan, hutang publik, ekspor-impor, kondisi ekonomi dan politik serta tingkat pendapatan riil

Saran yang dapat dimunculkan dari pembahasan tulisan ini adalah :

a) Sebagai warga negara yang baik perlu selalu mencintai produk bangsa sendiri dan membayar dengan mata uang rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

b) Eksekutif dan Legislatif harus membuat aturan pengetatan alat bayar transaksi di seluruh wilayah Indonesia menggunakan mata uang rupiah dan berlaku bagi seluruh masyarakat yang berada di wilayah NKRI, baik bagi masyarakat maupun warga negara asing.



..:: ditbekangad ::..
DIRKUAD





Brigjen TNI Sasongko Hardono, S.Sos





LIST ARTIKEL
Kunjungan Ke Rumah Sehat Terpadu Dompet Duafa Parung
Shodaqoh Membawa Berkah
Keutamaan Membangun Masjid Walau Hanya Memberi Satu Bata
Manfaat Kesehatan Juice Seledri
OPTIMALISASI PELAKSANAAN KOMUNIKASI SOSIAL TNI AD UNTUK MENGANTISIPASI GERAKAN TERORISME DALAM MENGHADAPI PROXY WAR
Peran Keuangan Pusat (KUPUS) dalam penyusunan Laporan Keuangan Wilayah (UAPPA-W)
Implementasi Teknologi Untuk Menunjang Pelaksanaan Tugas Kusatker Dalam Rangka Mendukung Tugas Satuan
Analisis Dampak Melemahnya Rupiah Terhadap Dollar AS
Ingin Kumiliki Aset Negara
Karakteristik Kehendak Manusia


STATISTIK

143578

   Pengunjung hari ini : 9
   Total pengunjung : 46555

   Hits hari ini : 44
   Total Hits : 143578

   Pengunjung Online: 1


LINK KESATUAN
   Kemhan
   Mabes TNI
   TNI AD
   TNI AL
   TNI AU

Copyright @2015 Ditkuad, All rights reserved