Gaya Design - Presentation Cycle
slide1
slide2
slide3
slide4
..:: ditbekangad ::..
MANTAN DIRKUAD

  • DIRKUAD - I

    Mayjen TNI Prof. Dr. Arifin Abdurachman

  • DIRKUAD - II

    Letkol R. Padmosuwarno

  • DIRKUAD - III

    Letkol RM Haryono

  • DIRKUAD - IV

    Letjen TNI H. KRMH Soeryo Wiryohadiputro

  • DIRKUAD - V

    Mayjen TNI Buang Siswo Darsono

  • DIRKUAD - VI

    Brigjen TNI Badarusamsi

  • DIRKUAD - VII

    Mayjen TNI R. Sumarto Haryono

  • DIRKUAD - VIII

    Brigjen TNI Slamet Haryono

  • DIRKUAD - IX

    Mayjen TNI Soehanto

  • DIRKUAD - X

    Brigjen TNI Maskanan

  • DIRKUAD - XI

    Brigjen TNI Burhanuin Siregar

  • DIRKUAD - XII

    Brigjen TNI H.R. Soemarno

  • DIRKUAD - XIII

    Brigjen TNI Hari Kiswanto

  • DIRKUAD - XIV

    Brigjen TNI HS. Momon H. Adiputra

  • DIRKUAD - XV

    Brigjen TNI Soetarto

  • DIRKUAD - XVI

    Brigjen TNI I Made Kerana

  • DIRKUAD - XVII

    Brigjen TNI H. Suhendri. M, SE, MBA

  • DIRKUAD - XVIII

    Brigjen TNI H. Santoso Yuwono, SE

  • DIRKUAD - XIX

    Brigjen TNI Ir. H. Yayat Rochadiat MM, MBA

  • DIRKUAD - XX

    Brigjen TNI Minwar Hidayat SH

  • DIRKUAD - XXI

    Brigjen TNI Sumarwoto

  • DIRKUAD - XXII

    Brigjen TNI Hadi Rudito, SE

  • DIRKUAD - XXIII

    Brigjen TNI Bambang Ratmanto, ST, MM

  • DIRKUAD - XXIV

    Brigjen TNI Yus Adi Kamrullah

  • DIRKUAD - XXV

    Brigjen TNI Teddy Hernayadi


Clean Elegant Login Form with Avatar

LOGIN PERATURAN


PERATURAN
2012
2013
2014
2015



KONTAK KAMI
Animated Background Image | jquerydemo.com

artikel
ARTIKEL

Rabu, 11 Nopember 2015, 04:11:53
Implementasi Teknologi Untuk Menunjang Pelaksanaan Tugas Kusatker Dalam Rangka Mendukung Tugas Satuan
Penulis : Letkol Cku Fajar Wibowo
 
  Di era globaliasi saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan demikian pesat. Pada dunia militer, kehadiran teknologi telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pelaksanaan tugas, oleh karena itu kekuatan militer di dunia senantiasa berupaya untuk mengeksploitasi teknologi baik dalam bentuk hardware maupun software guna mencegah timbulnya korban jiwa dan memenangkan waktu. Sejalan dengan hal tersebut, TNI AD senantiasa berupaya mengembangkan pemanfaatan teknologi melalui kegiatan penelitian dan pengembangan, bukan hanya mengembangkan hardware namun pengembangan teknologi oleh TNI AD juga menyentuh software baik untuk diterapkan pada Alutsista maupun untuk digunakan dalam kegiatan bidang administrasi.

  Ketertiban administrasi dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan merupakan salah satu prioritas dalam Catur Tunggal pembinaan organisasi TNI AD. Salah satu ketertiban administrasi yang diharapkan dapat berjalan dengan optimal adalah ketertiban administrasi dalam pengurusan keuangan negara. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari fakta bahwa penilaian BPK atas kinerja suatu instansi senantiasa dilandasi oleh data yang diuraikan dalam Laporan Keuangan, dimana penyajiannya merupakan tanggung jawab dari Badan Keuangan.

 

  Selaras dengan uraian diatas Kusatker yang memiliki tugas pokok menyelenggarakan pelayanan administrasi dan pengurusan keuangan negara, menyusun laporan akuntasi keuangan negara, serta melaksanakan pembayaran bagi satuan kerja dalam rangka mendukung tugas pokok Kukotama/Balakpus TNI AD dan satker yang dilayani, tentunya memiliki peranan yang sangat vital dan dominan dalam menentukan ketertiban administrasi organisasi TNI AD.

  Bertitik tolak dari uraian diatas untuk dapat menciptakan ketertiban administrasi di dalam pengurusan keuangan negara maka diperlukan adanya kemampuan menyajikan data secara cepat dan tepat. Namun demikian, dihadapkan pada sumber daya yang dimiliki oleh Kusatker baik dari segi personel maupun materiil, kemampuan tersebut tidak akan optimal dapat terlaksana karena minimnya penerapan teknologi dalam pelaksanakan tugas Kusatker. Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan yang ada maka diperlukan adanya implementasi teknologi untuk menunjang pelaksanaan tugas kusatker dalam rangka mendukung tugas satuan. 

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DALAM PELAKSANAAN TUGAS KUSATKER.

  Untuk melaksanakan tugas pokok, Kusatker melaksanakan tugas –tugas antara lain tugas dalam rangka melaksanakan fungsi utama yang terdiri dari  verifikasi, pembayaran dan akuntansi.

  Verifikasi pada dasarnya merupakan kegiatan di bidang pengujian, pengesahan dan pembebanan tagihan pada mata anggaran yang telah ditentukan termasuk didalamnya adalah proses penghitungan pajak. Verifikasi pada dasarnya merupakan proses awal sebelum dilaksanakannya pembayaran melalui uji fisik terhadap bukti pertanggungjawaban keuangan, oleh karenanya kegiatan ini baru dapat dilaksanakan apabila seluruh bukti Wabku telah diterima secara lengkap oleh Kusatker. Dihadapkan pada dislokasi Satker maupun Subsatker yang tidak berada pada satu kedudukan, proses penyerahan Wabku tentu membutuhkan waktu yang relatif lama, sedangkan disisi lain proses penghitungan pajak yang masih dilakukan secara manual dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidakakuratan dalam perhitungan. Secara keseluruhan permasalahan diatas tentunya akan berpengaruh kepada kecepatan dan kebenaran pembayaran tagihan yang dilakukan Kusatker.

  Pembayaran dalam Kusatker merupakan proses dari serangkaian kegiatan yang dimulai dari pengajuan kebutuhan dana hingga pembayaran tagihan kepada pihak ketiga dalam rangka mendukung kegiatan Satker. Dapat dikatakan, kegiatan tersebut merupakan proses dari tingkat perencanaan sampai dengan pengakhiran sehingga memerlukan kecepatan dan keakuratan dalam mengolahnya. 

  Sejak diberlakukannya peraturan bersama antara Kementrian Keuangan dan Kementrian Pertahanan, dana yang digunakan untuk melakukan pembayaran oleh Kusatker berasal dari dua sumber yakni dana dari Dipa Petikan Satker Pusat melalui mekanisme otorisasi berjenjang dan dana dari sistem Dipa Petikan Satker daerah melalui mekanisme uang persediaan. Dengan demikian, pangajuan kebutuhan danapun ditujukan kepada dua badan keuangan yakni Baku atasan Kusatker dan KPPN.

  Mekanisme pengajuan kebutuhan dana oleh Kusatker saat ini masih dilakukan secara manual yakni dengan mengirimkan berkas dalam bentuk hard copy baik kepada KPPN maupun Baku atasan. Bahkan pada mekanisme pengajuan dana melalui KPPN untuk pengajuan UP dan GUP, hard copy tersebut tidak dapat dikirimkan melalui pos dan sejenisnya tetapi harus diserahkan langsung kepada KPPN. Dihadapkan pada kenyataan tersebut, letak Kusatker yang berada pada tempat berbeda dengan KPPN atau Baku atasan, tentu akan menimbulkan problematika tersendiri. Permasalahan tersebut akan semakin bertambah apabila pada berkas yang dikirim ditemukan kesalahan baik pada penulisan maupun perhitungannya, sehingga memerlukan perbaikan yang harus dimulai dari awal. Dengan demikian akan semakin banyak waktu dan sumber daya yang terbuang sia – sia pada proses tersebut.

  Akuntansi  merupakan bagian akhir dan terpenting dalam pelaksanaan tugas Kusatker setelah dilakukannya pembayaran yang terdiri dari kegiatan pencatatan dan pelaporan. Proses pencatatan dan pelaporan dalam kegiatan akuntansi, merupakan satu – satunya fasilitas Kusatker yang dilengkapi dengan sistem penatabukuan secara terintegrasi dan online antara Baku bawahan dan Baku atasan sehingga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi Kusatker dalam pelaksanaan tugas.

  Namun dihadapkan pada mekanisme penyusunan Laporan Keuangan yang senantiasa mengalami pembaharuan, sistem penatabukuan tersebut tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan data yang diperlukan mengingat masih terdapat beberapa bentuk dokumen Laporan Keuangan yang tidak difasilitasi oleh sistem yang ada, sehingga untuk dapat menghasilkan laporan keuangan secara utuh masih digunakan kombinasi antara sistem manual dan komputerisasi dalam penyusunannya. Kondisi ini tentu akan berpengaruh terhadap keakuratan dan ketepatan data yang akan disajikan. 

  Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan tugas Kusatker saat ini dihadapkan dengan penggunaan sistem dan teknologi yang masih bersifat konvensional, ditemukan beberapa permasalahan terutama terkait dengan keakuratan pemrosesan data dan inefisiensi penggunaan sarana prasarana serta waktu. Oleh karena itu diperlukan adanya upaya untuk memperbaiki sistem yang ada untuk dapat meminimalisir kesalahan dan persoalan yang terjadi.

  Dalam kegiatan verifikasi, hasil akhir dari kegiatan ini adalah jumlah netto dari suatu tagihan yang diperoleh dari hasil pengurangan antara jumlah brutto dan pajaknya. Informasi jumlah brutto dapat diperoleh dari faktur barang atau SPP yang diterbitkan oleh PPK. Sedangkan pajak diperoleh dari hasil perkalian terhadap nilai barang dengan ketentuan pemotongan pajaknya. Dengan demikian dalam kegiatan verifikasi, terdapat peluang untuk mempercepat proses verifikasi khususnya pada perhitungan jumlah pembayaran melalui pemeriksaan awal terhadap faktur barang maupun SPP yang menjadi dasar perhitungan. Peluang ini dapat dimanfaatkan dengan membangun sistem verifikasi secara online pada Kusatker yang dapat digunakan oleh pihak ketiga dan Satker layanannya untuk mengirimkan SPP mupun faktur pembelian secara online sehingga Kusatker dapat lebih awal menerima data elektronik tersebut dalam rangka perhitungan tagihan sebelum dokumen Wabku lengkap secara fisik lengkap diterima.

  Selain itu, salah satu pasal pada peraturan bersama antara Menteri Pertahanan dan Menteri Keuangan yang menyatakan bahwa PPSPM hanya bertanggung jawab terhadap kebenaran secara administrasi atas pertanggungjawaban keuangan dapat dimanfaatkan sebagai acuan untuk memperingkas bukti kelengkapan Wabku yang harus diserahkan kepada Kusatker.

  Sebagai contoh kelengkapan Wabku kegiatan kontrak yang berjumlah tidak kurang dari 12 item apabila ditelaah hanya terdapat 3 dokumen utama yang berhubungan langsung dengan pembayaran yakni SPP, Kwitansi Umum dan Surat Perjanjian Kontrak sedangkan 9 bukti lainnya tidak perlu diserahkan kepada Kusatker karena hanya bersifat mendukung.  Apabila penyesuaian ini dapat dilaksanakan tentunya akan semakin memudahkan proses verifikasi secara online dan mempercepat proses pembayarannya . Sejalan dengan penerapan teknologi pada mekanisme verifikasi, dalam mekanisme pengajuan danapun perlu dibangun suatu sistem yang terintegrasi antara Kusatker dengan KPPN maupun Kusatker dengan Baku atasan sehingga proses pengajuan dana dapat dilakukan secara elektronik guna mengurangi inefisiensi penggunaan waktu dan inefisiensi penggunaan sarana prasarana untuk penyiapan hard copy. Disatu sisi, agar mekanisme pendanaan dan pembayaran  dapat dilakukan  secara mudah dan sederhana, Kusatker dapat memanfaatkan sistem management cash flow melalui internet banking yang dibangun oleh bank pemerintah, dimana dalam fasilitas ini nasabah diberi keleluasaan untuk melakukan berbagai macam transaksi secara mandiri baik untuk melakukan transfer dana kepada pihak ketiga maupun melakukan penyetoran pajak tanpa perlu mendatangi kantor bank. Apabila sistem ini diterapkan pada mekanisme pembayaran Kusatker tentu akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan tugas.

  Sedangkan pada aplikasi pembukuan dalam mekanisme akuntansi yang saat ini telah berjalan, perlu dilakukan adanya pengembangan terkait bentuk laporan yang harus disajikan. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan data untuk menyajikan Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas yang menjadi tuntutan Peraturan dirjen Perbendaharaan Nomor 42 Tahun 2014. Disamping itu, untuk menciptakan Laporan Keuangan Satker secara akurat dan komprehensif maka diperlukan adanya pengembangan sistem terhadap aplikasi SIMAK BMN, SAK maupun SAIBA agar keseluruhan sistem yang ada dapat saling terintegrasi.

TANTANGAN.

  Tantangan pertama dalam penerapan teknologi dilingkungan Kusatker adalah tidak adanya badan penelitian dan pengembangan dilingkungan Ditkuad yang dapat menjembatani dan mempelopori penggunaan teknologi dilingkungan organisasi keuangan. Untuk dapat mengaplikasikan suatu sistem secara tepat dan efektif, kegiatan riset dan pengembangan tentunya mutlak diperlukan karena teknologi bukan merupakan suatu benda yang bersifat statis dan akan senantiasa berkembang, sehingga setiap saat perlu diteliti dan dikaji untuk penerapannya. Namun demikian, kondisi ini masih dapat disiasati melalui penggunaan teknologi sederhana yang ada yakni dengan memanfaatkan email untuk pengiriman data elektronik dan penggunaan fasilitas dalam microsoft office untuk penghitungan pajak. Pemanfaatan teknologi sederhana ini diharapkan dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam rangka membiasakan personel keuangan terhadap penerapan teknologi dilingkungannya. Meskipun bersifat sederhana, penggunaan teknologi ini tentunya harus diorganisasikan dan di awasi secara ketat untuk menghindari adanya penyalahgunaan data.  

  Tantangan kedua dalam penerapan teknologi di lingkungan Kusatker adalah terbatasnya kemampuan sumber daya manusia yang akan mengawaki organisasi tersebut.      Dapat  dikatakan  setelah  adanya  aturan yang menyebabkan mengembangnya  jumlah Organisasi  Kusatker  di  lingkungan TNI AD,  telah    menimbulkan   efek   terhadap   besarnya permintaan personel untuk mengisi kekosongan jabatan dalam organisasi yang baru terbentuk. Idealnya, pengembangan suatu organisasi harus diimbangi dengan pengembangan personel baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun pada kenyataannya, pengembangan organisasi Kusatker belum diimbangi dengan penambahan jumlah personel keuangan, sehingga untuk mengisi kekosongan jabatan pada organisasi yang baru, digunakan metode tambal sulam melalui tour of duty maupun tour of area personel keuangan yang ada sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa personel yang terpilih adalah mereka yang sudah tidak produktif lagi untuk digunakan dalam pelaksanaan tugas di lingkungan Kusatker.

  Untuk meminimalisir kondisi tersebut dapat dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada , antara lain melalui: 

1. Salah satu unsur penting dalam suatu organisasi adalah pucuk pimpinan yang akan memimpin suatu organisasi, karena para pimpinanlah yang akan menentukan maju mundur dan arah organisasi yang dipimpinnya. Oleh karena itu agar penerapan teknologi di lingkungan Kusatker dapat terlaksana secara optimal maka diperlukan pimpinan Kusatker yang menguasai teknologi sehingga dirinya dapat menjadi motor bagi anggotanya dalam bidang tersebut. Untuk dapat memastikan hal ini, maka pada mekanisme penunjukan Pa Kusatker tentunya harus dilakukan secara selektif berdasarkan kualitas dan kompetensi yang dimiliki;            

2. Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme personel adalah melalui jenjang pendidikan baik secara formal maupun informal. Dengan demikian, kelemahan personel Kusatker terkait teknologi dapat dijembatani dengan jalan mengikutsertakan personel tersebut dalam pendidikan maupun pelatihan yang diselenggarakan oleh TNI AD; dan

3. Perlu dilakukan adanya penyesuaian terhadap kurikulum yang dioperasionalkan oleh Pusdikku sebagai Lembaga Pendidikan awal bagi setiap personel keuangan dengan menyisipkan unsur teknologi dalam setiap materi pelajaran terkait verifikasi dan akuntansi serta mekanisme pembiayaan sehingga peserta didik lulusannya memiliki modal dasar yang memadai dalam mengaplikasikan teknologi di lapangan.

  Tantangan Ketiga. Sebagai tantangan terbesar dalam penerapan teknologi di lingkungan Kusatker adalah  minimnya sarana dan prasarana yang tersedia baik dalam bentuk hardware maupun software. Kondisi hardware dan software yang berlaku saat ini dilingkungan Kusatker merupakan aset peninggalan lama yang sudah tidak up to date sehingga untuk mengoptimalkan penggunaannya dalam memproses data secara online, maka diperlukan adanya penggantian atau upgrade terhadap sarana dan prasarana yang tersedia.

PENUTUP

  Dengan pesatnya perkembagnan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi saat ini, pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan tugas merupakan hal yang tidak dapat kita hindari karena secara universal teknologi telah menjadi kebutuhan primer dari setiap organisasi yang harus dipenuhi. Dalam pelaksanaan tugas pokok di lingkungan Kusatker yang memerlukan ketepatan dan keakuratan dalam perhitungan data, implementasi teknologi bukan merupakan hal baru mengingat pada mekanisme akuntansi hal tersebut telah diterapkan. Namun demikian, untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan tugas maka penerapan teknologi di lingkungan Kusatker harus dilakukan secara komprehensif terhadap seluruh fungsi utama yang dilaksanakan.

  Selanjutnya, agar implementasi teknologi dalam pelaksanaan tugas Kusatker dapat terlaksana dengan optimal maka diperlukan adanya research dan penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas serta adnya dukungan dari aspek legal disamping ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada. Diharapkan dengan memanfaatkan teknologi pada akhirnya dapat menunjang pelaksanaan tugas Kusatker untuk mendukung tugas Satuan. 

 

 

 

 

 



..:: ditbekangad ::..
DIRKUAD





Brigjen TNI Sasongko Hardono, S.Sos





LIST ARTIKEL
Shodaqoh Membawa Berkah
Keutamaan Membangun Masjid Walau Hanya Memberi Satu Bata
Manfaat Kesehatan Juice Seledri
OPTIMALISASI PELAKSANAAN KOMUNIKASI SOSIAL TNI AD UNTUK MENGANTISIPASI GERAKAN TERORISME DALAM MENGHADAPI PROXY WAR
Peran Keuangan Pusat (KUPUS) dalam penyusunan Laporan Keuangan Wilayah (UAPPA-W)
Implementasi Teknologi Untuk Menunjang Pelaksanaan Tugas Kusatker Dalam Rangka Mendukung Tugas Satuan
Analisis Dampak Melemahnya Rupiah Terhadap Dollar AS
Ingin Kumiliki Aset Negara
Karakteristik Kehendak Manusia
Secercah Harapan


STATISTIK

120032

   Pengunjung hari ini : 13
   Total pengunjung : 37838

   Hits hari ini : 36
   Total Hits : 120032

   Pengunjung Online: 1


LINK KESATUAN
   Kemhan
   Mabes TNI
   TNI AD
   TNI AL
   TNI AU

Copyright @2015 Ditkuad, All rights reserved