Gaya Design - Presentation Cycle
slide1
slide2
slide3
slide4
..:: ditbekangad ::..
MANTAN DIRKUAD

  • DIRKUAD - I

    Mayjen TNI Prof. Dr. Arifin Abdurachman

  • DIRKUAD - II

    Letkol R. Padmosuwarno

  • DIRKUAD - III

    Letkol RM Haryono

  • DIRKUAD - IV

    Letjen TNI H. KRMH Soeryo Wiryohadiputro

  • DIRKUAD - V

    Mayjen TNI Buang Siswo Darsono

  • DIRKUAD - VI

    Brigjen TNI Badarusamsi

  • DIRKUAD - VII

    Mayjen TNI R. Sumarto Haryono

  • DIRKUAD - VIII

    Brigjen TNI Slamet Haryono

  • DIRKUAD - IX

    Mayjen TNI Soehanto

  • DIRKUAD - X

    Brigjen TNI Maskanan

  • DIRKUAD - XI

    Brigjen TNI Burhanuin Siregar

  • DIRKUAD - XII

    Brigjen TNI H.R. Soemarno

  • DIRKUAD - XIII

    Brigjen TNI Hari Kiswanto

  • DIRKUAD - XIV

    Brigjen TNI HS. Momon H. Adiputra

  • DIRKUAD - XV

    Brigjen TNI Soetarto

  • DIRKUAD - XVI

    Brigjen TNI I Made Kerana

  • DIRKUAD - XVII

    Brigjen TNI H. Suhendri. M, SE, MBA

  • DIRKUAD - XVIII

    Brigjen TNI H. Santoso Yuwono, SE

  • DIRKUAD - XIX

    Brigjen TNI Ir. H. Yayat Rochadiat MM, MBA

  • DIRKUAD - XX

    Brigjen TNI Minwar Hidayat SH

  • DIRKUAD - XXI

    Brigjen TNI Sumarwoto

  • DIRKUAD - XXII

    Brigjen TNI Hadi Rudito, SE

  • DIRKUAD - XXIII

    Brigjen TNI Bambang Ratmanto, ST, MM

  • DIRKUAD - XXIV

    Brigjen TNI Yus Adi Kamrullah

  • DIRKUAD - XXV

    Brigjen TNI Teddy Hernayadi


Clean Elegant Login Form with Avatar

LOGIN PERATURAN


PERATURAN
2012
2013
2014
2015



KONTAK KAMI
Animated Background Image | jquerydemo.com

artikel
ARTIKEL

Rabu, 11 Nopember 2015, 16:44:25
Secercah Harapan
Penulis : Mayor Cku Kuat Erlangga Surya, S.E., M.M.
 

True Story, A letter from :

Ny Atikah Supriatna, warakawuri dari Almarhum Praka Supriatna (gugur dalam tugas operasi di Aceh tanggal 8 Agustus 2004)

“KAMI YANG HARUS SIAP MENJADI “SINGLE PARENT

 

  Saya Atikah (38), saya adalah salah satu perempuan dari sekian banyak perempuan yang menjadi istri prajurit. Menjadi istri prajurit memiliki kebanggaan tersendiri untuk saya, saya bangga bisa mendampingi suami saya yang seorang pembela negara. Selain bangga tapi juga ada rasa was-was ketika suami harus pergi bertugas. Suami saya, Praka Supriatna (Alm) ketika itu harus berangkat bertugas ke Aceh. Meskipun terasa berat namun saya melepaskannya dengan ikhlas, saya hanya bisa berserah dan mendoakannya “Ya Allah berikanlah kelancaran dan kemudahan untuk suami saya dalam menjalankan tugasnya serta berilah ia keselamatan  agar bisa berkumpul kembali dengan kami disini, hanya kepada Mu Ya Allah aku titipkan suamiku”. Amiin.

  Setiap melihat tv atau mendengar kabar dari orang lain tentang kemelut di Aceh tentunya perasaan saya tidak karuan, bagaimana tidak suamiku merupakan salah satu yang ada di sana. Akan tetapi keluarga selalu menyakinkan saya, ”insyaallah suamimu ada dalam lindungan NYA”. Sudah 4 bulan suami saya bertugas di Aceh, sepeti biasa di sela-sela waktu tugasnya suami saya selalu menghubungi baik lewat telefon maupun sms. Waktu itu tanggal 8 Agustus 2004 suami saya menelpon, menanyakan kabar keluarga di sini dan saya bilang baik-baik saja. Tak biasanya suami saya menelpon dengan begitu riang, saya pun sedikit bercanda pada  beliau “Mas kaya nya senang banget hari ini kaya mau bertemu dengan siapa aja”, dan beliau hanya tertawa. Didalam percakapan lewat telepon beliau berpesan “jangan lupa sholat, titip anak dan jangan lupa disekolahkan”, beliau ingin supaya suatu saat anaknya dijadikan POLWAN. Tak di sangka bahwa hari itu merupakan terakhir kalinya saya mendengar suara dan ketawanya yang begitu riang dan memang bercanda tadi benar adanya bahwa suami saya akan bertemu dengan sang pencipta Allah SWT.

  Pesan singkat dari beliau yang hingga saat ini masih saya simpan “CINTAKU PADA ANAK ISTRIKU SUDAH TAK DAPAT DIPISAHKAN LAGI WALAUPUN AKU DI TEMPAT TUGAS YANG SANGAT RAWAN, AKU PASTI KEMBALI DENGAN SELAMAT AMIN YA ROBAL ALAMIN”. Setiap kali saya membaca sms itu hati saya bergetar, hati saya tidak kuasa menahan pilu saat saya harus menerima kenyataan bahwa suami saya pulang dalam keadaan meninggal dunia, gugur dalam membela negara ini.  Kejadian itu terjadi di kawasan Samalanga Kabupaten Bireuen, minggu         (8/8/2004) siang. Juru bicara Satgas Info Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Koopslihkam ) TNI Letkol CAJ Asep Sapari mengatakan insiden yang menewaskan Praka Supriyatna terjadi saat patroli 15 personil Yonif 321/GT yang dipimpin Letda Inf Habe Arioko dihadang sekitar 50 anggota GAM bersenjata. Menurut beliau praka Supriyatna gugur akibat tertembak di bagian perut, dada dan lengannya.

Selamat jalan putra terbaik bangsa, Nangroe Aceh Darusalam saksi bisu yang menewaskan suami saya dalam membela dan mempertahankan NKRI. Kami akan selalu  mengenangmu.

  Pilu, sedih dan tak tahu kemana akan saya langkahkan kaki ini setelah kepergian suami saya, akan tetapi kehidupan ini harus terus berjalan menafkahi anak kami yang masih kecil dan meneruskan cita-cita suami saya, menjadikan anak kami POLWAN seperti keinginan suami saya. “Ya Rabb berilah hamba kekuatan”. 

  Santunan pun diberikan kepada saya dan keluarga kami, santunan dari divisi yaitu asabri khusus yang gugur sebanyak 35 juta, tunjangan rumah sebesar 21 juta serta santunan kematian sebesar 25 juta. Sepeninggalan 40 hari almarhum suami, saya beserta anak kembali ke orang tua di Sukahaji, Majalengka. Dengan uang santunan itu saya berusaha bangkit dari musibah ini, saya membangun rumah yang sederhana yang kami tempati hingga sekarang ini. Waktu terus berjalan,dana pensiun yang pertama saya terima sebesar Rp. 500.000,- dan hingga saat ini tahun 2015 kami menerima Rp.1.432.000,-

  Tentunya dengan keadaan ini dan dalam kebutuhan ekonomi yang semakin mahal, menjadi ibu sekaligus pemimpin dalam keluarga, saya pun dituntut untuk semakin berpikir bagaimana agar anak saya tetap bisa makan dan bersekolah, dengan keadaan ini saya putuskan untuk mencari uang tambahan. Saya mencari uang tambahan dengan cara membuat tusuk sate. Saya dapat membuat tusuk sate 2-3 ikat dalam sehari, satu ikat berisi 500 tusuk dan satu ikat harganya Rp.3.200 – Rp. 3.300. Memang begitu kecil uang yang saya dapat dari membuat tusuk sate, tidak  lebih  dari  Rp.10.000  yang  saya  dapat  setiap  harinya.  Namun  itu cukup membantu untuk saya menyambung hidup  dalam  setiap  harinya,  meskipun  tak jarang uang yang saya peroleh belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan saya dan anak saya. Jika dalam keadaan terdesak, saya meminjam uang kepada orang tua saya.

  Dengan segala  keterbatasan yang ada, meskipun dalam keadaan serba kekurangan namun saya tidak putus asa. Saya tetap berharap agar anak saya dapat sekolah setinggi-tingginya dan bisa menjadi seperti yang ayahnya (Alm. Praka Supriyatna) cita-citakan yaitu menjadi POLWAN. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memudahkan jalan rizqi kami, agar saya dapat tetap menghidupi dan memenuhi kebutuhan termasuk kebutuhan pendidikan anak saya. Amiin.

  Cerita di atas merupakan kisah nyata dari seorang warakawuri yang suaminya gugur di medan operasi demi bangsa dan negara. Masih banyak lagi kisah Atikah yang lain yang hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagai renungan  “Seandainya yang gugur itu adalah diri kita, bagaimana nasib anak istri kita? Dapatkah mereka meneruskan cita-citanya dengan uang pensiun dan santunan yang diterima saat ini? 

  Pemberian kesejahteraan yang sudah ada selama ini, baik dari negara maupun melalui kebijakan Kasad, lebih difokuskan bagi personel TNI AD yang berdinas aktif. Pemberian kesejahteraan yang ada, dirasakan belum menyentuh secara mendalam terhadap personel TNI AD dinas aktif yang meninggal dunia. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya pemberian santunan kematian yang diterima keluarga/ahli waris dari personel TNI AD yang meninggal  dunia.  Asuransi jiwa dan asuransi penugasan operasi militer sesuai yang diamanatkan dalam UU NO 34 tahun 2004 tentang TNI belum direalisasikan oleh pemerintah.    Di lain sisi, santunan kematian yang diberikan baik dari negara maupun melalui kebijakan Kasad terhadap ahli waris dari personel   TNI AD yang meninggal dunia, nilai nominalnya masih rendah. Menjadi anggota TNI merupakan satu-satunya profesi yang siap mati karena tugas, karenanya TNI dilatih untuk hal tersebut. Oleh sebab itu sangatlah logis apabila TNI memiliki suatu jaminan masa depan terhadap kelangsungan hidup keluarganya. Namun demikian, saat ini pemberian santunan kematian terhadap ahli waris dari personel TNI AD yang meninggal dunia, nilainya masih rendah dan hanya memiliki dampak jangka pendek terhadap kelangsungan hidup keluarga/ahli waris yang ditinggalkan.

  Rendahnya nilai santunan kematian terhadap ahli waris dari personel TNI AD yang meninggal dunia, menyebabkan keluarga/ahli waris dalam melanjutkan hidup berada di bawah bayang-bayang kemiskinan. Atas dasar tersebut, penulis mempunyai ide/gagasan sebagai sumbangan pemikiran dan masukan kepada pimpinan TNI AD dalam hal pengambilan kebijakan terkait upaya peningkatan pemberian santunan kematian dari yang sudah ada selama ini.

  Kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bagi personel TNI perlu mendapat apresiasi. Kenaikan gaji, tunjangan kinerja, tunjangan jabatan, ULP/uang makan PNS menyebabkan personel TNI memiliki “take home pay” yang cukup    layak dan patut disyukuri. Dengan penghasilan yang layak, perlu adanya pemahaman pandangan bagi personel TNI AD tentang pentingnya keikutsertaan dalam asuransi jiwa. Asuransi ialah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti (subtitusi) kerugian-kerugian besar yang belum pasti (Drs.H. Abbas Salim, M.A., Asuransi & Manajemen Resiko, 2007;1) Dapat dipahami bahwa orang bersedia membayar kerugian yang sedikit untuk masa sekarang, agar bisa menghadapi kerugian-kerugian besar yang mungkin terjadi pada masa mendatang. 

  Teori tersebut memberikan pemahaman bahwa keikutsertaan asuransi bukan untuk memberatkan, melainkan merupakan perlindungan bagi personel TNI AD. Memang saat ini seluruh personel TNI AD sudah ikut dalam asuransi ASABRI, namun nilai pertanggungan yang didapat bagi personel yang meninggal dunia dalam bentuk SRKK bagi personel yang gugur dan SNTA dan SRK bagi personel yang meninggal dunia biasa, nilai nya tidak terlalu besar. Hal tersebut dikarenakan bentuk Asuransi ASABRI merupakan jenis asuransi investasi (bukan murni asuransi), dimana bila tidak terjadi resiko selama dinas aktif, maka akan ada pengembalian premi/potongan saat pensiun.

  Guna meningkatkan pemberian santunan kematian baik dari Asabri maupun dari batuan Kasad yang bersumber dari YKEP, perlu adanya kebijakan dari pimpinan TNI AD untuk mengikutsertakan seluruh personel TNI AD dalam Asuransi jiwa, sebagai upaya dalam membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan, khususnya bagi personel TNI AD dinas aktif yang meninggal dunia. Dengan keikutsertaan personel TNI AD dalam asuransi jiwa, memungkinkan bagi personel TNI AD dinas aktif yang meninggal dunia memperoleh tambahan santunan kematian dari yang sudah ada selama ini, sehingga keluarga yang ditinggalkan tetap memiliki secercah harapan dalam melanjutkan hidup dan meneruskan cita-cita  dengan santunan yang diterimanya.

  Terdapat beberapa perusahaan asuransi yang menawarkan produk-produk asuransi jiwa. Sebagai contoh :

1. PT. Asuransi Allianz Life Indonesia :

    a. Premi sebesar Rp. 2.493.000,-/orang/tahun.   

        (dibayar sekaligus dalam 1 tahun)

    b. Nilai pertanggungan/klaim meninggal dunia

        Sebesar Rp.300.000.000,-

2. PT. Manulife Financial :

    a. Premi sebesar Rp.9.720,-/orang/hari atau

        sebesar Rp.3.383.550,-/orang/tahun.

        (dibayar sekaligus dalam 1 tahun)

    b. Nilai pertanggungan/klaim meninggal dunia

        sebesar Rp.500.000.000,-

Catatan : Pengajuan klaim/ pertanggungan biasanya hanya berlaku terhadap peserta asuransi yang :

-    Meninggal bukan karena pertempuran.

-    Meninggal bukan karena mengidap penyakit kronis, narkoba, bunuh diri. 

  Nilai santunan yang ditawarkan dari produk asuransi tersebut cukup menjanjikan. yaitu sebesar 300 jt  s.d. 500 jt bagi peserta yang meninggal dunia. Namun premi atau potongan yang harus dibayar juga cukup besar yaitu berkisar antara 2,5 jt s.d. 3,9 jt per tahun, dan juga biasanya perusahaan asuransi jiwa tidak mau menanggung klaim bagi peserta yang meninggal karena pertempuran dan mengidap penyakit kronis.  Tingginya nilai premi yang harus dibayar dikarenakan perusahaan asuransi  dalam menentukan tarif dasar asuransi/premi akan memperhitungkan cost of operations suatu perusahaan asuransi yaitu :a) Operasional kantor (sewa kantor/kantor cabang, listrik, telepon, cleaning service, security, dan lain-lain), b) Biaya advertensi, reklame, sales promotion, c) Biaya upah/gaji karyawan, d) Biaya pajak, e) Pemeriksaan dokter, f) Biaya pembuatan polis (administrasi, kertas dan lainnya), g) Biaya reasuransi, h) Biaya cadangan, i) Bunga pinjaman Bank, j) Profit Oriented (keuntungan perusahaan) 

  Premi/potongan yang ditawarkan dari produk beberapa perusahaan asuransi, tentunya akan memberatkan bagi personel TNI AD sekiranya diikutkan dalam produk asuransi tersebut. Oleh karena itu, penulis mempunyai pemikiran “Bagaimana personel TNI AD ikut dalam asuransi jiwa dengan hanya membayar premi yang rendah, namun dapat memperoleh klaim/pertanggungan yang besar, sehingga dapat meningkatkan penerimaan santunan kematian dari yang sudah ada selama ini?”

  Gagasan yang ditawarkan dalam tulisan ini adalah melalui penetapan kebijakan Kasad untuk membuat program Asuransi Jiwa Swakelola yaitu suatu program asuransi yang dikelola sendiri oleh TNI AD (tanpa menggunakan jasa perusahaan asuransi). Program asuransi jiwa swakelola ini dimungkinkan dilaksanakan guna menekan cost of operations suatu perusahaan asuransi seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Adapun perhitungan program asuransi jiwa swakelola dapat diuraikan sebagai berikut :

1.   Jumlah pers TNI AD (militer dan PNS) sebanyak 351.721 orang (data dari Spersad)
  2.   Teori kecenderungan (Measures of central tendency) merupakan teori pendekatan yang lazim digunakan oleh perusahaan asuransi dalam menghitung rata-rata peserta yang meninggal dunia. Dengan       pendekatan teori tersebut, diperoleh rata-rata   personel TNI AD yang meninggal dunia (data dari Spersad dalam kurun waktu 8 tahun terakhir) sebagai berikut :
              a. Meninggal dunia biasa sebanyak 596 orang per tahun

              b. Gugur sebanyak 16 orang per tahun

  3.   Premi yang dibayar oleh setiap personel TNI AD sebesar Rp.50.000,-/bulan
 

  4.   Perhitungan dana terkumpul per tahun dari     pembayaran premi :
         351.721 orang x Rp.50.000,-/orang x 12 bulan  =    Rp.211.032.600.000,-

         5.   Pertanggungan/klaim yang dapat diberikan :

               a.  Meninggal dunia biasa per tahun : 

               Rp.300.000.000,-   x   596  orang    = Rp.178.800.000.000,-

               b.  Gugur pertahun :

               Rp.600.000.000,-   x  16  orang   = Rp.9.600.000.000,-    

               c.  Jumlah--------  = Rp.188.400.000.000,-

         6.  Sisa dana premi per tahun :

        a.  Dana premi yang terkumpul per tahun sebesar Rp.211.032.600.000,-

        b.  Dana klaim/pertanggungan per tahun sebesar Rp.188.400.000.000,-

        c.  Sisa dana per tahun-----    Rp.22.632.600.000,- 

         7.  Sisa dana tersebut dapat digunakan sebagai :

        a.  Biaya cadangan sekiranya personel TNI AD yang meninggal dunia dalam satu tahun lebih dari 612 orang. (personel TNI AD yang meninggal dunia per tahun tidak dapat dihitung secara pasti)

        b.  Biaya operasional kantor antara lain :

             1)  Gaji/insentif pengelola.

             2)  Pembuatan dan pemeliharaan   program aplikasi komputer.

             3)  Pembuatan kartu peserta.

             4)  ATK

             5)  Biaya komunikasi (Telepon, Faksimil,   Surat   menyurat, Internet.

 

Program Asuransi Jiwa Swakelola TNI AD

1. Premi sebesar Rp.50.000,-/orang/bulan atau sebesar Rp.600.000,-/orang/tahun (dibayar per bulan)

2. Nilai pertanggungan/klaim meninggal dunia

    a. Meninggal dunia biasa Rp.300.000.000,-

    b. Gugur     Rp.600.000.000,-

Catatan : Pengajuan klaim/pertanggungan berlaku bagi seluruh personel TNI AD tanpa melihat keadaan/proses meninggalnya.

Perusahaan Asuransi Jiwa Umum.

1. PT. Asuransi Allianz Life Indonesia :

    a. Premi sebesar Rp. 2.493.000,- /orang/tahun.(dibayar sekaligus dalam 1 tahun)

    b. Nilai pertanggungan/klaim meninggal dunia Sebesar Rp.300.000.000,-

2. PT. Manulife Financial :

    a. Premi sebesar Rp.9.720,-/orang/hari atau sebesar Rp.3.383.550,-/orang/tahun. (dibayar sekaligus dalam 1 tahun)

    b. Nilai pertanggungan/klaim meninggal dunia  sebesar Rp.500.000.000,- 

Catatan : Pengajuan klaim/ pertanggungan biasanya hanya berlaku terhadap peserta asuransi yang :

a. Meninggal bukan karena pertempuran.

b. Meninggal bukan karena mengidap penyakit kronis, narkoba, bunuh diri. 

 

    Dari perhitungan program asuransi jiwa swakelola dengan produk perusahaan asuransi umum, apabila dibandingkan, jauh lebih unggul dengan menggunakan metode program asuransi swakelola. Dengan program asuransi jiwa swakelola, personel TNI AD tentunya tidak merasa berat dalam hal membayar premi, karena hanya Rp.50.000,-/orang/bulan, dan klaim/pertanggungannya pun tidak kalah dengan yag ditawarkan oleh produk perusahaan asuransi umum, yaitu sebesar 300 jt bagi yang meninggal dunia biasa, dan 600 jt bagi yang gugur/tewas di medan operasi.

  Dengan program asuransi jiwa swakelola yang dikelola sendiri oleh TNI AD, setiap personel TNI AD dapat memaknai premi yang dibayarnya setiap bulan sebagai :

•    Kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti (subtitusi) kerugian-kerugian besar yang belum pasti.
•    Wujud empati, senasib sepenanggungan, dan saling membantu dengan sesama  personel TNI AD, karena sesungguhnya uang premi yang dipotong setiap bulan akan diberikan kepada rekannya-rekannya sesama personel TNI AD yang meninggal dunia.
•    Dapat dijadikan wahana shedekah terhadap sesama personel TNI AD yang mendapatkan musibah meninggal dunia. 
  Memang nyawa tidak dapat dinilai dan diganti dengan uang seberapapun besarnya. Namun dengan adanya peningkatan penerimaan santunan kematian dari yang sudah ada selama ini, diharapkan setiap personel TNI AD akan tenang jiwanya karena mengetahui sekiranya terjadi resiko kematian dalam melaksanakan tugas negara, keluarga yang ditinggalkan tetap memiliki secercah harapan untuk melanjutkan hidup dan meneruskan cita-citanya dengan penerimaan santunan kematian yang layak. Dan tentunya akan bermuara pada tumbuh kembangnya semangat juang dan jiwa berani mati demi membela bangsa dan negara.



..:: ditbekangad ::..
DIRKUAD





Brigjen TNI Sasongko Hardono, S.Sos





LIST ARTIKEL
Kunjungan Ke Rumah Sehat Terpadu Dompet Duafa Parung
Shodaqoh Membawa Berkah
Keutamaan Membangun Masjid Walau Hanya Memberi Satu Bata
Manfaat Kesehatan Juice Seledri
OPTIMALISASI PELAKSANAAN KOMUNIKASI SOSIAL TNI AD UNTUK MENGANTISIPASI GERAKAN TERORISME DALAM MENGHADAPI PROXY WAR
Peran Keuangan Pusat (KUPUS) dalam penyusunan Laporan Keuangan Wilayah (UAPPA-W)
Implementasi Teknologi Untuk Menunjang Pelaksanaan Tugas Kusatker Dalam Rangka Mendukung Tugas Satuan
Analisis Dampak Melemahnya Rupiah Terhadap Dollar AS
Ingin Kumiliki Aset Negara
Karakteristik Kehendak Manusia


STATISTIK

129888

   Pengunjung hari ini : 55
   Total pengunjung : 41627

   Hits hari ini : 188
   Total Hits : 129888

   Pengunjung Online: 2


LINK KESATUAN
   Kemhan
   Mabes TNI
   TNI AD
   TNI AL
   TNI AU

Copyright @2015 Ditkuad, All rights reserved